TIMES WAMENA, JAKARTA – Kunjungan Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen ke Nuuk, ibu kota Greenland, menjadi sinyal politik yang kuat di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik terkait masa depan wilayah otonom tersebut. Dalam pernyataan singkat kepada media pada Jumat (23/1), Frederiksen menekankan dukungan penuh Denmark terhadap Greenland sebagai bagian dari kedaulatan bersama.
“Saya berada di Greenland hari ini, yang pertama dan paling utama, adalah untuk menunjukkan dukungan kuat Denmark bagi rakyat Greenland,” ujar Frederiksen. Ia menyebut situasi saat ini sebagai masa yang teramat sulit, sehingga membutuhkan persatuan dan komunikasi politik yang solid.
Frederiksen juga menekankan pentingnya kerja sama erat dengan Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen. Menurutnya, koordinasi intensif antara Kopenhagen dan Nuuk menjadi langkah krusial dalam menyusun arah kebijakan Denmark ke depan.
“Saat ini kami akan bersiap untuk mengambil jalur diplomatik dan politik,” kata Frederiksen, menandai pendekatan yang mengedepankan strategi negara dan dialog internasional.
Diplomasi di Tengah Dinamika Global
Kunjungan ke Greenland dilakukan tak lama setelah Frederiksen menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Darurat Uni Eropa di Brussel pada Kamis (22/1). Pada hari yang sama, ia juga menggelar pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, memperkuat sinyal bahwa isu Greenland telah masuk dalam radar pembahasan strategis Eropa dan kawasan Atlantik Utara.
Rangkaian agenda tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian Denmark terhadap posisi geopolitik Greenland, yang selama ini memiliki nilai strategis baik secara militer maupun ekonomi di kawasan Arktik.
Laporan Penambahan Kesiapsiagaan Militer
Di tengah dinamika politik tersebut, Danish Broadcasting Corporation (DR) melaporkan bahwa pasukan Denmark yang baru dikerahkan ke Greenland dilengkapi dengan jumlah amunisi aktif dalam skala yang tidak biasa. Menurut laporan itu, para prajurit diperintahkan untuk bersiap menghadapi kemungkinan pertempuran mendadak dan mempertimbangkan skenario terburuk yang ekstrem.
DR bahkan menyebut adanya asumsi latihan menghadapi potensi serangan mendadak dari Amerika Serikat. Media publik Denmark tersebut melaporkan bahwa terdapat keinginan politik yang cukup luas di dalam negeri untuk melakukan perlawanan jika skenario tersebut benar-benar terjadi.
Meski demikian, pemerintah Denmark belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut. Fokus Frederiksen dalam kunjungan ini tetap menekankan jalur diplomasi dan konsolidasi politik internal, sembari mengirim pesan tegas bahwa Denmark berdiri bersama Greenland dalam menghadapi tekanan geopolitik yang berkembang. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Kunjungi Greenland, PM Denmark Tegaskan Solidaritas dan Kedaulatan
| Pewarta | : Antara |
| Editor | : Imadudin Muhammad |